Wednesday, May 11, 2011

Intelegensi, Berbahayakah?

            Sumber daya manusia merupakan sebuah harta yang tidak akan pernah dapat dinilai oleh materi. Berbagai cara dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk mencapai tujuan masyarakat mandiri. Tentu saja dalam mencapai tujuan masyarakat yang mandiri tidak seperti melepaskan anak panah dari busurnya, perlu kerja keras selama beberapa waktu. Hal tersebut mengasumsikan bahwa kita sedang melaksanakan investasi sumber daya manusia.
            Investasi sumber daya manusia dilakukan dengan cara pendidikan dan pelatihan, peningkatan kualitas kesehatan dan pengembangan dalam metode-metode pengajaran. Semua upaya-upaya tersebut berdampak pada objek, yaitu manusianya. Namun, apakah diperhatikan bagaimana dampak tersebut, apakah positif atau negatif?
            Di dalam semesta ini, Tuhan selalu memberikan pendamping bagi setiap ciptaan-Nya, hitam dengan putih, gemuk dengan kurus, tinggi dengan rendah, panjang dengan pendek begitu pula positif dengan negatif. Tidak selamanya rendah itu jelek, dan tidak selamanya tinggi itu bagus. Tergantung pada kita bagaimana memanfaatkannya dan dimanfaatkan pada waktu yang tepat.
            Program pendidikan formal seperti yang dijelaskan diatas positif, namun pada saat sekarang ini di era yang serba globalisasi, maka pengaruh-penharuh dari luar harus kita filter. Nah, apa filter yang paling cocok diterapkan pada masa sekarang ini? Jawaban yang tepat adalah agama. Penanaman nilai-nilai keagamaan harus diberikan sejak anak-anak dapat melihat dunia. Bahkan sejak seorang ibu mengandung sebuah janin, maka ibu tersebut akan mengajarkan hal-hal yang berkaitan dengan agama terlebih dahulu. Dengan penerapan pendidikan agama yang bagus, maka dengan sendirinya moralitas dapat terbentuk.
            Yang sangat disayangkan sekarang ini, banyak orang-orang yang memiliki intelegensi tinggi, namun tidak paham dengan agama, sehingga mereka pun tidak paham bagaimana intelegensi tersebut digunakan untuk kemaslahatan khalayak umum, bukan untuk mencukupi kebutuhan diri sendiri atau sekelompok tertentu. Banyak kasus yang telah memperlihatkan kerakusan individu atau kelompok dengan menggunakan intelegensi yang mereka miliki untuk menguasai alam dan isinya.
            Intelegensi merupakan sebuah kelebihan yang dimiliki oleh manusia yang dapat membawa manusia tesebut kepada kemakmuran atau pun kehancuran. Untuk membawanya menuju kemakmuran, maka harus kita manfaatkan sebaik-baiknya dan diselaraskan dengan alam. Apabila dibawa dengan keangkuhan dan egoisme, maka kehancuranlah yang akan diraih. Kita harus dapat menyesuaikan diri dengan alam, bukan alam yang menyesuaikan diri dengan kita (Harsono). Jadi menurut anda, berbahayakah intelegensi?
            Menjawab pertanyaan diatas, saya mencoba mengkaji dengan menggunakan sudut pandang historis. Seperti bangsa Yahudi yang memiliki kecerdasan diatas manusia lain pada umumnya. Mereka merasa bahwa kelompoknya adalah kaum pilihan sehingga kaum selain dia harus dimusnahkan karena hanya akan menjadi sampah semesta. Dengan bekal kecerdasan yang dimiliki, maka kaum Yahudi memikirkan berbagai cara-cara pemusnahan, menciptakan berbagai temuan-temuan baru, baik berupa penyakit atau pun teknologi yang mampu mereka kendalikan untuk menguasai dunia. Sehingga muncullah berbagai bencana dan musibah seperti wabah penyakit dan bencana buatan lainnya.
            World War atau Perang Dunia yang sampai sekarang masih menjadi perbincangan dunia yang sempat terjadi dua kali, sebenarnya merupakan perang intelegensia antara fisikawan Blok Barat dan Blok Timur. Dalam tayangan Discovery Channel yang menayangkan bagaimana sejarah perang dunia sampai bagaimana masing-masing negara menciptakan alat-alat perang yang mampu melumpuhkan lawannya, dapat saya petik kesimpulan bahwa yang berperang sebenarnya adalah ilmuwan-ilmuwan yang menciptakan peralatan-peralatan tempur tersebut. Dari mulai senjata api yang memiliki akurasi tinggi hingga penciptaan peledak teknologi nuklir yang mampu menggoyang bumi dengan hanya sekali saja ledakan. Telah terbukti bahwa kecerdasan yang tidak dikontrol oleh moralitas hanya akan menimbulkan kehancuran. Reaktor nuklir yang meledak pada tahun 1986 hingga saat ini, radiasinya masih terasa dan masih menimbulkan kerusakan.
            Kecerdasan bisa membawa kita ke surga atau pun ke neraka. Ke surga apabila dibarengi dengan agama dan moralitas, ke neraka apabila kecerdasan berjalan sendiri dengan angkuh dan mendongakkan kepala. Kecerdasan yang tanpa etika dan moralitas akan menggiring si pemilik pada sifat rakus dan hasrat ingin menguasai. Seperti yang Habermas (filosof Amerika) katakan bahwa keinginan menguasai alam berubah menjadi hasrat mendominasi manusia lain. Hal ini dimaksudkan bahwa alam tidak dapat kita kuasai, hanya dapat kita manfaatkan. Apabila kita berusaha menguasai alam, maka yang akan terjadi adalah bencana alam dan kerusakan lingkungan, lebih baik kita mndominasi orang lain pada hal-hal kebaikan sehingga orang lain tersebut mengikuti perbuatan baik kita. Bukankah itu yang menjadi tujuan dari investasi sumber daya manusia yang kita rencanakan dan kita harapkan.
            Dari sekian banyak hal-hal negatif yang ditimbulkan oleh intelegensi yang tidak mengikutsertakan moralitas dan kebijakan dari hati, maka masih banyak lagi hal-hal positif yang dapat dimunculkan dari intelegensia. Kemajuan dalam bidang telekomunikasi merupakan salah satu dari sekian banyak hasil dari kecerdasan. Selain itu dalam hal medis atau pengobatan telah muncul juga berbagai cara-cara atau pun obat-obatan yang dapat mengatasi berbagai macam penyakit yang sebelumnya belum dapat disembuhkan.
            Peningkatan pendidikan harus senantiasa dilakukan. Di Indonesia memiliki arah kebijakan mengenai pendidikan yang dapat digunakan untuk peningkatan kualitas manusia Indonesia. Arah kebijakan di Indonesia meliputi :
1.    Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia menuju terciptanya manusia Indonesia yang berkualitas tinggi dengan peningkatan anggaran pendidikan.
2.    Meningkatkan kemampuan akademik dan profesional serta meningkatkan jaminan kesejahteraan tenaga kependidikan sehingga tenaga pendidik mampu berfungsi secara optimal terutama dalam peningkatan pendidikan watak dan budi pekerti agar dapat mengembalikan wibawa lembaga dan tenaga kependidikan.
3.    Melakukan pembaruan sistem pendidikan termasuk pembaruan kurikulum, berupa diversifikasi kurikulum untuk melayani keberagaman peserta didik, penyusunan kurikulumyang berlaku nasional dan lokal sesuai dengan kepentingan setempat, serta diversifikasi jenis pendidikan secara profesional
4.    Memberdayakan lembaga pendidikan baik sekolah maupun luar sekolah sebagai pusat pembudayaan nilai, sikap, dan kemampuan, serta meningkatkan partisipasi keluarga dan masyarakat yang didukung oleh sarana dan pra sarana memadai.
5.    Melakukan pembaruan dan pemantapan sistem pendidikan nasional berdasarkan prinsip desentralisasi, otonomi keilmuan dan manajemen.
6.    Meningkatkan kualitas lembaga pendidikan yang diselenggarakan baik oleh masyarakat maupun pemerintah untuk menetapkan sistem pendidikan yang efektif dan efesien dalam mengahdapi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
7.    Mengembangkan kualitas sumber daya manusia sedini mungkin seara terarah, terpadu, dan menyeluruh melalui berbagai upaya proaktif dan reaktif oleh seluruh komponen bangsa agar generasi muda dapat berkembang secara optimal disertai dengan hak dukungan dan lindungan sesuai dengan potensinya. (www.kemendiknas.go.id)

Kesimpulannya, peningkatan intelegensi melalui program-program pendidikan formal harus dibarengi dengan peningkatan moralitas dari manusia itu sendiri agar pendidikan yang diterima dapat digunakan sebagaimana mestinya untuk kemakmuran masyarakat luas tanpa menimbulkan kerusakan alam.

Saturday, February 12, 2011

puisi : saat jauh darimu

Saat jauh darimu
Hati kecilku berkata
Akukah yang kau puja?
Akukah yang selalu dihatimu?
Benarkah rasa itu?
Dulu mulutmu berkata
Yakinlah padaku, kukan setia
Dulu akupun berkata
Iya, aku pun kan setia
Layaknya tebing disisi bukit
Makin deras air hujan
Makin habis terkikis
Sebulan, dua bulan
Setahun, dua tahun
Akankah bertahan
Hingga sepuluh tahun, seratus tahun
Harapanku
Walaupun tidak dengan batu dan semen yang kokoh
Namun hanya dengan kayu dan akar yang sederhana saja
Yang kau rajut, kau rakit, kau jalin dengan rapi sebagai pondasi
Dengan teliti dan tidak lupa dengan sepenuh hati
Tebing itu tidak akan terkikis
Walaupun seratus tahun, seribu tahun
Aku sayang kamu…
Aku yakin kau pun sayang aku,,,

Saturday, February 5, 2011

awal ku menatap dunia

alhamdulillah
kata yang patut ku ucapkan pertama kali...
portal untuk menatap dunia luar sudah terbuka
dimana aku dapat mengeksplor duniaku dan menyerap dunia yang menyajikan berjuta informasi,,
berbicaralah pada dunia maka dunia akan berbicara padamu ^_^